“Kisah Dibalik Keceriahan Si Anak Desa”

Kupang (27/6/2009). Riuh rendah celotah anak-anak itu  terdengar. Ketika mereka  berjalan bersama-sama  menuju sekolah.  Keceriahan ini tidak terlepas dari kondisi kesehatan mereka yang baik. 

Satu diantara anak-anak itu ternyata bernama Mita  (8 tahun), Klas 2 SD, Anak ini terlihat paling menonjol dengan berbadan bersih, berambut hitam ikal-lebat, tinggi badang proporsional dengan usianya, dan terlihat segar. Dengan semangatnya sambil terus berceloteh dengan kawan-kawan sebaya sampai tiba di halaman sekolah.

Ada rasa keingin tahuan yang mendalam melihat kondisi yang sangat menggembirakan ini. Lalu sepulangnya si Mita dari Sekolah,  ketika dibuntuti  langkah si anak hingga sampai ke rumah. Ternyata  tidak ada yang istimewa dengan keadaan keluarga si anak. Ia tergolong dari keluarga biasa-biasa saja, walau tidak dapat dikatakan kaya, juga tidak digolongkan serba kekurangan.

Sukar dibayangkan dengan kondisi rumah yang sederhana, berdinding separuh beton, separuh papan, berlantai semen, beratap seng. Berukuran 6 x 12 m. Rumah ini dihuni si Mita bersama-sama kedua orang tuanya, seorang kakak perempuan dan 2 adik laki-laki.  Melihat kondisi ini menjadi tambah penasaran ada apa dibalik keceriahan si Anak.

Ternyata apa yang dilakukan orang tua si Anak merupakan hal-hal yang sederhana dan tidak sukar di terapkan oleh kelaurga lainnya. Si Ibu telah menerapkan Kadarzi (Keluarga Sadar Gizi). Kadarzi adalah suatu keluarga yang mampu mengenal, mencegah dan mengatasi masalah gizi setiap anggotanya. Suatu keluarga disebut Kadarzi apabila telah berperilaku gizi yang baik dengan  dicirikan minimal:

  1. Menimbang berat badan secara Teratur
  2. Memberikan Air Susu Ibu (Asi) saja kepada bayi sejak bayi lahir sampai umur enam bulan (Asi Ekslusif)
  3. Makan Beraneka Ragam
  4. Menggunakan Garam Beryodium
  5. Minimum suplemen gizi sesuai anjuran

Seandainya semua keluarga di desa itu telah menerapkan KADARZI betapa bahagianya Anak-Anak ..

Dugh…. Tiba-tiba terasa ada yang menggigit.. ah..ah… ah.. Aku terbangun ternyata tadi hanya cerita  mimpi..Tapi mudah-mudahan Kadarzi memang bisa terwujud di Suatu Desa kelak… Semoga ( Agusman Rizal)

 

Iklan

6 pemikiran pada ““Kisah Dibalik Keceriahan Si Anak Desa”

  1. anak-anak juga dream, vision, mssion, harapan, dan lain-lain termasuk anak-anak miskin pedesaan yang kurang gizi. Dan, mereka juga punya hak untuk melihat masa depan sama seperti yang dimiliki anak-anak yang memiliki keberuntungan. Unfair advantage inilah yang mungkin perlu digarap oleh para agent of development dan agent of change

  2. Yach Mas Harsono
    Masa Anak-anak adalah The Golden Age.. yang harus dipenuhi semua hak-haknya,,, juga dengan hak untuk mendapatkan pangan dan gizi yang cukup agar tercipta generasi yang cerdas di kemudian hari.

  3. terima kasih kepada semua orang tua, untuk dan agar menjadi orang tua yang bertanggung jawab, yang salah satu KEWJIBAN pokoknya dalah mementingkan kebutuhan pangan n gizi buat anaknya terutama masa balita, biar menjadi generasi yang lebih unggul dari kita.

  4. Mimpi itu nyata, karena ada usaha, usaha itu bisa karena didukung do’a….

    Aku adalah salah satu anak yang memang tidak begitu banyak mendapatkan Gizi. Kondisi Rumah pun sama persis seperti apa yang ada di postingan di atas.

    Sempat bermimpi sama seperti diatas, dan saya pun terus untuk berusaha mewujudkannya dan hanya Empat tahun perubahan itu sudah saya dapatkan sampai saya menuliskannya di Blog punya saya…..

    Makasih, untuk pemilik blog yang memberikan kesempatan untuk berkomentar sepereti ini….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s