Kpg (29-7-2009). Kemaren waktu mau beli gorengan & burjo (bubur kacang ijo) tuk dibawah pulang, si abang mau meletakkan gorengan & burjo tadi di Kantong Plastik Hitam (Kresek)… Mendadak jadi inget dengan berita yang di lansir beberapa Stasion TV pertengahan bulan Juli yag lalu. Kalo Gw nggak salah inget & kalo salah tanggal tolong di benerin yach. Hari Selasa, 14 Juli 2009 yang lalu Badan POM RI mengeluarkan “Public Warning” untuk tidak menggunakan kantung plastik (plastik kresek hitam) sebagai wadah makanan siap saji. Kantong plastik tsb merupakan bahan daur ulang. Dan juga dikarenakan dalam proses pembuatannnya ada unsur bahan kimia tambahan. Lebih-lebih lagi tidak diketahui riwayat awal bahan baku plastik tsb. Bisa aja dulunya untuk membungkus ampas, limbah………..???
Pertanyaannya sekarang…. Apakah pangan dan minuman Kita sudah dikepung oleh bahan-bahan berbahaya lainnya ????….
Tunggu saja pengumuman lanjutan dari Badan POM RI…..!
Sementara itu di Harian Kompas Sabtu, 11 Juli 2009 dimuat artikel berjudul:
Kenali Plastik Sebelum Makan
Ditulis oleh Gesit Ariyanto
Menenteng rantang membeli bakso atau soto itu zaman dulu alias jadul. Dianggap kuno. Kini rantang telah berganti plastik atau material lain yang serba simpel dan murah. Selesai persoalan. Sesederhana itukah?
Kelebihan plastik yang ringan, simpel, trendi, dan fleksibel begitu menarik perhatian konsumen. Barangkali itulah salah satu alasan kenapa rantang dan barang pecah belah ditinggalkan.
Pada banyak gerai makanan dan minuman cepat saji, misalnya, hampir semua seperti kompak mengganti barang pecah belah dengan bahan plastik untuk penyajiannya. Lagi-lagi, soal serba simpel, ringan, dan tak mudah pecah pertimbangannya.
Barangkali, mewakili semangat zaman modern yang serba cepat. Ringkas.
Dari beberapa material berbahan dasar plastik, yang marak digunakan sebagai pengemas adalah styrofoam. Bahan yang satu ini bisa dibentuk apa saja, sesuai kemauan dan kebutuhan.
Tak heran apabila mulai dari rumah tangga hingga produsen alat-alat berat memanfaatkannya. Ringan, baik harga maupun beratnya.
Styrofoam merupakan salah satu jenis plastik. Styrofoam terbuat dari polystyrene yang dicampur bahan khusus (blowing agent).
Polystyrene sendiri merupakan jenis plastik yang dihasilkan dari proses polimerisasi styrene monomer. Styrene monomer itulah yang selama bertahun-tahun menyita perhatian banyak kalangan, dari konsumen hingga peneliti.
Ketika digunakan sebagai pengemas makanan, pada suhu tinggi (panas) dan lemak bahan kimia monomer dapat bermigrasi ke dalam makanan dan berisiko bagi kesehatan. Terakumulasi di dalam tubuh, dalam jumlah besar membahayakan kesehatan konsumen.
”Kenyataannya, kalaupun terjadi migrasi monomer, jumlahnya teramat sedikit dan tidak berbahaya,” kata Kepala Bidang Polimer Rekayasa Pusat Teknologi Material Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Ismariny. Styrofoam memiliki titik lunak 102 derajat-106 derajat celsius.
Ismariny punya penjelasan. Styrene monomer pembentuk styrofoam ukurannya teramat kecil (dalam part per million/ppm). Kalau kemudian terlepas karena tidak terbentuk sempurna, ukurannya jadi lebih kecil lagi.
Kalaupun ada migrasi, wujudnya yang umumnya berbentuk gas sulit berbaur di dalam air. Monomer gas akan merambat ke permukaan air lalu terurai di udara (tentu tidak kelihatan dengan mata telanjang).
Namun, ada juga monomer berbentuk cair, seperti polycarbonate dan formalin. Ini yang lebih berbahaya.
Waspadai akumulasi
Sebenarnya, soal akumulasi penting dipahami konsumen. Bagaimanapun kandungan monomer tetaplah bahan kimia yang berbahaya.
Oleh karena itu, ada ketentuan baku yang ditetapkan pemerintah di seluruh dunia untuk melindungi warganya. Di Indonesia, pengaturan baku tersebut juga sudah dilakukan meskipun baru sekitar tiga tahun lalu.
Kepala Laboratorium Polimer Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Agus Haryono menyebutkan, sebagian besar plastik terbuat dari bahan kimia yang pada dasarnya berbahaya bagi kesehatan. Apalagi, bila peruntukan plastik dan produk turunannya tidak sesuai.
Pada binatang percobaan akumulasi zat-zat aditif yang bermigrasi dari plastik ke dalam makanan menyebabkan kanker, perubahan hormon, dan kelahiran baru berkelamin ganda (hermafrodit). ”Pada manusia bisa menyebabkan keguguran. Tapi, itu kalau akumulasi dalam jumlah besar,” kata Agus.
Gunakan semestinya
Ada beberapa cara menghindari bahaya kemasan plastik pada kesehatan manusia. Prinsipnya, gunakan produk plastik yang terdaftar sesuai peruntukannya.
”Perhatikan suhu dan lemak atau minyak ketika menggunakan plastik. Hindari memasukkan makanan panas dalam plastik atau styrofoam,” kata pakar teknologi pangan dan gizi Institut Pertanian Bogor, Made Astawan.
Menurut Ismariny, meskipun penggunaan plastik dan styrofoam dalam standar baku sudah aman bagi kesehatan, lebih baik menghindari mengemas makanan/minuman dengan suhu lebih dari 60 derajat celsius. ”Kalau hanya untuk mengemas makanan atau minuman dingin dalam suhu ruang, tidak ada masalah. Aman,” kata dia.
Sayangnya, dalam keseharian, plastik (termasuk plastik kresek), masih digunakan untuk membungkus gorengan, bakso, dan soto panas. Bahkan, masih sering dijumpai ember plastik untuk menampung sayur panas dalam volume besar. ”Itu contoh penggunaan yang tak sesuai peruntukannya,” kata Agus.
Produk plastik memang simpel dan murah, tetapi dampaknya tidak sesederhana penggunaannya. Lebih baik mencegah sebelum terlambat.
Sumber : Kompas
Juli 29, 2009 pukul 6:06 am |
betul banget….semoga kesadaran masyarkat makin tinggi akan bahaya plastik untuk mengemas makanan
Juli 29, 2009 pukul 6:11 am |
Setuju…. tinggal harus pandai mensiasati wadah makanan & minuman yg ada
Juli 31, 2009 pukul 9:38 am |
Sah-sah aja,,namun baiknya ada peraturan yg melarang pemakaian kantung pelastik..Salam kenal
Juli 31, 2009 pukul 10:07 am
Salam kenal kembali
Semoga usulannya ditanggapi oleh pihak-pihak yg berkomptensi…
C.U
Juli 29, 2009 pukul 6:37 am |
kembali ke daun pisang, waktu sd dulu gorengan ma ketan di bungkus sama daun pisang. Gak ada bahan kimianya (jarang juga pisang/daunnya dikasih insek/pestisida) kemudian bikin gorengan lebih wangi, hehehe…
Juli 29, 2009 pukul 6:55 am |
Akh….akh…akh
Memang lebih wangi pake daun pisang….loh
Liat aja kue-keu tradisional yg dibungkus daun khan enak.. harum or wangi lagi..
Inget aja nich Wempi ama jadul..
Juli 29, 2009 pukul 7:46 am |
Baru berkunjung…. setelah sekian lama… yang jelas plastik itu tidak bisa di degradasi dalam tanah. walaupun bisa waktu gradasinya lama sekali… trims
Juli 29, 2009 pukul 9:08 am |
Selamat Datang lagi Mas Boy
Iya … katanya para ahli.. Thanks
Juli 29, 2009 pukul 9:47 am |
Paling gak boleh kalau makan plastiknya yaaaaaaa
Salam Sayang
Juli 30, 2009 pukul 12:03 am |
Ade-ade aje nich Kang Boed
I Love you Full….
Juli 29, 2009 pukul 3:04 pm |
Siap-siap bawa rantang dari rumah…
Juli 30, 2009 pukul 12:04 am |
Dulu hampir semua Kita punya Rantang… tapi nggak tau sekarang… sudah serba plastik.?
Juli 29, 2009 pukul 4:53 pm |
bawa misting sendiri atuh ya… biar ga pake kresek..
Juli 30, 2009 pukul 12:05 am |
Yach… agak repot sich.. Thanks
Juli 30, 2009 pukul 4:31 am |
Artikel yang bagus.
Kehidupan kita saat ini memang sudah dikepung oleh bahan-bahan beracun. Ada makanan fast-food (yang sering diidentikan dengan junk-food), makanan instan yang mengandung bahan pengawet (seperti MSG), makanan “daur ulang”, pembungkus yang tidak aman, dll. Belum lagi kasus makanan yang sudah kadaluarsa (karena kelalaian penjual atau memang disengaja) dan pengolahan bahan makanan yang tidak higienis.
Idealnya, semua dimulai dari “rumah”. Bagi yang sudah berkelarga, marilah membudayakan acara “masak bersama”, “berbelanja ke pasar tradisional bersama”, dan “makan bersama” di rumah. Selain lebih aman dan hemat, juga meningkatkan keakraban dan rasa saling memiliki dalam semua aspek kekeluargaan.
Indonesia yang kuat harus dimulai dari rumah tangga yang kuat.
Juli 30, 2009 pukul 5:15 am |
Emang betul begitulah kenyataannya…
Saya setuju mari menyediakan makan dan minum bersama-sama keluarga dan kurangi makanan dan minuman yg instan-instan,,, segala sesuatu yg serba instan itu kurang baik.. apalagi untuk efek jangka panjangnya.
C.U
Juli 30, 2009 pukul 6:45 am |
sebagai konsumen, mari kita bahu-membahu saling mengingatkan pedagang yang mungkin belum tahu bahaya kemasan yang dia gunakan. jadi pedagang tak kehilangan pelanggan dan kita pun senang karena tetap sehat
Juli 30, 2009 pukul 6:49 am |
Setuju… win – win solution
Bijaksanalah mensikapinya !!
Juli 30, 2009 pukul 7:34 am |
wah kagak dech kagak pernah blue bilang ini postingan kagak harus dibaca..justru sebaliknya meski dan harus dibaca berulang ulang…….trims yah.
salam hangat selalu
Juli 30, 2009 pukul 7:41 am |
Thanks…
Semoga dapet mengambil intinya..
Warm regard juga
Juli 30, 2009 pukul 11:45 am |
Assalamu’alaikum,
Membawa rantang saat kita membeli makanan, khususnya makanan panas seperti bubur ayam/berkuah, memang repot, tapi tetap jauh lebih aman. Untuk kantong plastik, mungkin kita harus mulai membiasakan diri menggunakan kantong kertas yang mudah didaur ulang.
Wassalam,
Dewi Yana
Juli 30, 2009 pukul 11:43 pm |
Waala’ikum Salam
Wah.. suatu ide yg perlu pendalaman lagi.
Himbauan Saya untuk Lembaga-Lembaga Penelitian Teknologi Industri and/or Teknologi Pangan agar segara melakukan penelitian alternatif wadah/tempat makanan yg aman… Sehingga jangan sampai produk-produk tertentu telah beredar lama dimasyarakat kemudian baru diketahui tidak aman untuk jangka panjangnya….
Salam
Juli 31, 2009 pukul 2:44 am |
Info yang sangat bagus…, memang kantong kresek plastik yang banyak di pasaran dan biasa banyak digunakan adalah hasil daur ulang. Rata-rata pedagang kaki lima misalnya makanan gorengan sering ditemukan lengsung menggunakannya tanpa pembungkus kertas. Selain kantong kresek juga koran bekas juga sangat berbahaya disamping karbon, juga kotoran atau bakteri.
Salam sukses dan persahabatan…..
Juli 31, 2009 pukul 10:01 am |
Hal-hal seperti yg Pak Endang sampaikan itu… Sudah selayaknya Kita sampaikan juga ke pedagang agar mereka juga aware (peduli) kesehatan konsumen.. jangan hanya mengejar keuntungan semata…
Thanks..
Peace..
Persahabatan Juga
Juli 31, 2009 pukul 10:20 am |
haddiiirrr…
Hhh.., kalo kresek sudah tidak boleh, tulung cariin penggantinya dong… hehehe….yang seekonomis tas kresek, biar pedagangpun ok2 aja menerimanya
cu…
Agustus 1, 2009 pukul 3:52 am |
Silakan..duduk.
Kita minta lembaga-lembaga/instansi terkait untuk memciptakan wadah/tempat makanan & minuman yg ekonomis dan higienis.
C.U..juga
Juli 31, 2009 pukul 10:21 am |
Berarti benar kata Yu Ngatemi, gunakan daun pisang untuk mbungkus makanan. Masalahnya daun pisang juga semakin langka.
Enaknya mbawa gelas dari rumah mas.
Salam hangat dari pakde di Surabaya
Agustus 1, 2009 pukul 3:58 am |
Pakde..!!
Daun pisang khan wangi untuk dijadiin pembungkung makanan… di deso-deso masih banyak dipake, di kota yg jadi masalah.
Jaman dulu Kita beli makan sering bawa wadah sendiri dari rumah dan pleserin sering bawa sendiri air masak dari rumah… Skrg sudah tak pake lagi cara ini.. dianggap jadul… ternyata cara-cara jadul banyak terbukti lebih bijaksana.?
Salam Hangat Juga …dari Indo.Bag.Timur
Juli 31, 2009 pukul 11:50 am |
Bingung juga nih, apakah kertas pembungkus nasi itu aman? ‘kan ada lapisan plastiknya. Apalagi kehidupan saya masih sangat dekat dengan nasi bungkus… (dengan kata lain, lbh sering beli drpd msk sndiri…
)
Agustus 1, 2009 pukul 4:02 am |
Katanya yang sering bermasalah dgn wadah plastik adalah makanan and/or minuman yg panas-panas (see artikel above), ada jenis-jenis plastik yg aman untuk wadah makanan… entar tak tambahin infonya di postingan ini jenis-jenis plastik yg diperbolehkan..
C.U
Agustus 1, 2009 pukul 2:00 am |
sampai jg ni ke rmh p.agus…
klo diitung,makanannya tak senikmat dampak jangka panjangnya ya pak. salam kenal
Agustus 1, 2009 pukul 4:04 am |
Wah.. silakan masuk mbak Diah.. thanks sudah singgah.
Kadang-kadang Kita juga sering mengabaikan efek jangka panjang.. berpikiran yg penting saat ini praktis.
Salam kenal kembali
C.U
Agustus 1, 2009 pukul 5:14 pm |
sekedar menambahkan dr materi pelajaran Kimia saya..
hati2jg thdp pembelian soto, bakso, dll (barang2 panas) karena tdk semua plastik tahan panas..
u/ plastik biasa, suhu makanan yg terlalu tinggi dpt menyebabkan lapis plastik meleleh.. akibatnya bahan plastik ikut tercampur dan termakan, serta bersifat karsinogenik (penyebab kanker)..
salam hangat,
classically
Agustus 3, 2009 pukul 9:42 am |
Yach hindari bahan makanan panas di kemas di dalam plastik (kantong), apalagi bila > 60 derajat celcius..berbaha..ha…ha..ya
Warm regard juga
Agustus 1, 2009 pukul 6:07 pm |
bnar bgt tu…,
kan kantong kresek terbuat dari plastik…,
jadi gampang meleleh…,
Agustus 3, 2009 pukul 9:42 am |
Bener… setuju…
Agustus 3, 2009 pukul 3:11 pm |
hmmm, setuju bgt tuh coz sangat merugikan kesehatan tentunya. dah yang gak kalah penting, jangan membiasakan beli nasi bungkus yang di rapetin pake staples, sebisa mungkin di karetin aja ato cara lain yg lebih aman. pernah ada kasus temen, beli nasi bungkus, nyampe rumah mati lampu, penerangan pae lilin, dan sukses bekas jepitan kemakan juga serta nyangkut di kerongkongan, bawa ke RS deh
Agustus 8, 2009 pukul 5:02 am |
Klu sudah sampe segitu .. cilaka namanya.
Buka mengatasi rasa lapar, bahkan menimbulkan \
masalah baru.. C.U
Agustus 3, 2009 pukul 10:48 pm |
yang aman ya memang membawa wadah sendiri,
tapi kita pengen yg lebih praktis, kira2 apa ya pengganti kantong kresek ?
salam.
Agustus 8, 2009 pukul 5:04 am |
Pertanyaan yang sama diajukan oleh beberapa blogger.??
tapi setidaknya Kita sudah mewaspadai akan bahanya jangka panjang dari penggunaan Plastik Daur ulang untuk wadah “Makanan Siap Saji (utamanya yg panas-
panas)
Agustus 4, 2009 pukul 12:23 pm |
[...] pangan, namun lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali tho? Salah seorang teman blogwalking (pak Agus) sudah menuliskan tentang salah satu artikel di Kompas tentang Kenali Plastik Sebelum Makan serta [...]
Agustus 4, 2009 pukul 3:52 pm |
Info yang sangat bagus pak, kebanykan dari kita disadari atau tidak selalu mau yang praktis. padahal kayanya kalo kita mau kmbali ke zaman dulu …. sehat kali yah ?. Ya.. kalo sekedar bungkus gorenagn mah pake daun aja, kalo untuk burjo ya… kalo mao aman bawa rantang sendiri kan aman ?, daripada praktis tapi jadi penyakit … ? ya… mending agak repotan dikit, bukan begitu Pak ?.
Salaaaaaaaaaam
Intanshurullaha yanshurkum
Agustus 8, 2009 pukul 5:13 am |
Salam Juga Kang Farhad
Di era serba canggih.. orang lebih memikirkan kepraktisannya saja… lupa akan dampak buruk
jangka panjangnya… “Lets healthy life”.
Agustus 5, 2009 pukul 7:45 am |
blue datang bang
ayo semangat ok
salam hangat selalu
Agustus 8, 2009 pukul 5:14 am |
Thanks sudah berkunjung kemari
Warm Regards juga
C.U
Agustus 5, 2009 pukul 12:02 pm |
kembali ke masa lalu, bungkus makanan menggunakan daun pisang atau daun jati
Agustus 8, 2009 pukul 5:15 am |
Saya dukung Bang..!
Back to “Healthy Life”
C.U
Agustus 10, 2009 pukul 1:21 pm |
bener, sekarang mah jamannya maunya yang serba mudah, praktis, klo ujung2nyah kayak begini mah sp yg mau atuh, sehat itu mahal coy, makanya di jaga atuh kesehatannya uk2!!!
Salam sayank wae ez ^_*
Agustus 12, 2009 pukul 10:48 am |
Praktis kadang-kadang suka bikin sengsara juga.
Be carefull.
Salam Chayang
C.U